Kamis, 30 Oktober 2014

Titik Api di Sumatra Melonjak Lagi

TITIK api indikator kebakaran hutan dan lahan kembali melonjak tajam. Berdasarkan pencitraan satelit, sedikitnya terpantau 807 titik api kebakaran hutan dan lahan yang membara di sepanjang pesisir timur Sumatra yaitu Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau.

Dari pencitraan satelit terra yang dilansir http://www.weather.gov.sg pukul 10.27 WIB, kemarin, terdapat sebanyak 807 titik api pembakaran hutan dan lahan. Jumlah titik api terbanyak diketahui terdapat di tiga provinsi yaitu Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau. Adapun arah angin tampak bertiup ke arah barat menuju pesisir barat Sumatra.

“Asap di Riau sudah jauh berkurang sejak hujan mulai mengguyur Kota Pekanbaru setiap sore harinya. Tapi, aroma asap masih terasa pada malam hingga subuh hari,“ kata Kamaruddin, warga Sukajadi, Pekanbaru. Riau. Dijelaskannya, sejauh ini kualitas udara di Pekanbaru sudah mulai membaik. Kondisi kualitas udara yang sempat anjlok pada posisi tidak sehat atau di atas 100 pollutant standard index (PPI) saat ini sudah kembali pulih atau berada di posisi di bawah 100 PPI.

“Tapi kita masih mengkhawatirkan ancaman kabut asap tebal yang kerap menyelimuti Riau,“ pungkasnya. Di Sulawesi Tenggara, diperkirakan, ribuan hektare padang savana di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohoa, yang berada di wilayah Kabupaten Konawe

Selatan dan Bombana, terbakar. Di bagian timur dan selatan kawasan itu asap tebal membubung tinggi dan api melalap kawasan itu.

Kebakaran hutan juga melanda Kawasan Hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur. Baru-baru ini, dua kebakaran menimpa di kawasan jalur pendakian yakni di Tanjakan Cinta dan Oro-Oro Ombo.

“Kebakaran masih saja terjadi. Banyak rerumputan terbakar. Apalagi kondisi cuaca sangat panas,“ kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Sudarmawan di Surabaya, kemarin. Kawasan hutan di Semeru sangat rawan kebakaran. Pihaknya sudah mengimbau masyarakat dan pendaki tidak menyalakan api unggun. Pasalnya, rerumputan di TNBTS sangat rawan sekali dan sensitif.

“Kemarin, di Tanjakan Cinta terbakar, karena pendaki buat api unggun menjalar ke tabung gas. Padahal kita sudah imbau agar tidak membawa bahanbahan yang mudah terbakar,“ kata Sudarmawan. Kebakaran yang terjadi di titik hutan TNBTS dan jalur pendakian mengancam ekosistem flora dan fauna sehingga perbaikan ekosistem memakan waktu bertahun-tahun.

“Ini yang kita khawatirkan, semakin lama terbakar, banyak flora dan fauna yang musnah. Membutuhkan waktu lama untuk rehabilitasi,“ ujarnya. BPBD Jatim dan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terus melakukan antisipasi agar kebakaran tidak sampai meluas. (RK/FL/Ant/N-2) Media Indonesia, 29/10/2014, Halaman : 11

Ditulis Oleh : Laura Agvanta // 12.10
Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar